We Have Now
|
|
Anggota Baru 7 Hari Terakhir |
|
 |
| 0 |
Anggota Online |
|
 |
| 125 |
Visitors |
 |
|
|
Anggota Aktif |
|
|
Your Profile
|
 |
|
| ID |
Tamu |
 |
|
|
Profil Belum Disetujui |
 |
|
|
Profil Tidak Aktif |
 |
|
|
|
 |
|
|
|
 |
|
|
|
| |
Edit Profile |
Quick Search
|
|
Saya: |
|
|
Mencari: |
|
|
Umur antara: |
dan
|
|
Lokasi: |
|
|
| |
|
|
Success Story
"Tuhan Jangan Berikan Aku Cinta Lagi" by darvinovich
”Yah, gw krmh skt dulu yak nasya, rewel. Lo pake bj garis” yak! Tar yak..”, kutunggu Melda di depan gang komplek rumah pamannya, Jl. Pulo Asem Timur 1 No. 37 Rawamangun Jakarta Timur. Hanya isi SMS ini yang kudapat dari sekian lama kutunggu dia.
Kuperhatikan mobil yang keluar masuk dan melintas sepanjang jalan itu. Kuberharap melihat Melda. Tapi tak satupun kulihat dia. Dalam hatiku, pasti Melda ada dalam salah satu mobil itu. Benar saja, sebenarnya Melda melihatku ketika aku menunggu di depan tukang gado-gado. Dia melihatku pergi menjauh membawa putrinya yang sedang sakit.
Dengan sabarnya kunanti dia sambil berkhayal satu setengah tahun yang lalu. Ketika pertama kali bertemu. Tak ada yang istimewa dari dirinya, janda beranak satu dengan tato di punggung bawah dan di kaki, biasa-biasa saja dibandingkan gadis-gadis yang ada di sekitar hidupku. Tapi entah kenapa aku mencintai wanita seperti dirinya. Absurd memang dan tak mungkin sekali aku mencintai dirinya. Itulah cinta, terimalah dia apa adanya.
Diriku dan dirinya berbeda jauh. Setiap kali aku berjalan dengan dirinya pasti aku akan menginjak kakinya. Menangislah dia ketika kuinjak kakinya. Akupun benci setiap kali menginjak kakinya. Tak ada nuansa romantis yang selalu kuimpikan dari seorang wanita. Apalagi diriku hanya seorang yang kesepian dan merindu akan cinta. Aku pendiam, tubuhku tak ada tato, dan aku masih jejaka tak pernah dalam pikiranku menikahi gadis idaman hati. Aku masih ingin bebas kawan.
Lama kutunggu yang kurindukan, aku berjalan meninggalkan jalan yang membuatku bosan. Ku naik metromini jurusan Senen dan turun di Mal Rawamangun sekedar melepas kebosanan. ”Depan bang!”, kuberikan uang seribu rupiah kepada kernet bukan duaribu rupiah karena jaraknya amat dekat.
Panas matahari Jakarta disaat jam menunjukan pukul 13.00 WIB. Tak terasa ternyata kutunggu dia sudah 3 jam lamanya. Depan Mall Rawamangun kulihat banyak orang sedang menawar supir bajaj. Ku teruskan langkahku masuk dalam sebuah gedung perbelanjaan, penuh dengan pengunjung yang sedang berwisata. Panas terik matahari kini sirna dengan dinginnya air conditioner Mall Rawamangun.
“Bu, kalau warnet di sini, dimana yah?”, kutanya satpam wanita yang sedang berjaga-jaga di depan posnya. “Lantai dasar Mas. Mas turun kebawah, lalu belok ke kiri. Nah di depan restoran ada warnet disana”. Selintas kulihat seorang gadis melihatku sambil berjalan lalu. “Terimakasih Bu!”, kuberjalan dan mencari warnet sebab telepon genggamku lowbat, takut Melda menghubungi aku.
“Nah itu dia warnetnya”, dalam hatiku.
Kulihat disana sudah penuh pengguna telepon dalam masing-masing KBU. Kutunggu dan kutunggu. Perasaan hari ini pekerjaanku hanya menunggu. Ada gadis manis dibalik salah satu KBU yang menatap diriku sambil berkomunikasi dengan teleponnya. Tak kuperdulikan gadis itu sebab pintu KBU No. 3 sudah kosong. Ku tekan nomor 08561198787. ”Tut, tut, tut”, tak ada jawaban dari dia. Kutekan lagi, dengan redial. ”Tut, tut, tut..., hallo! Yah, dimana lu? Gue telpon kok mati. Jadi ngak main ke rumah?”, tanya Melda.
Senangnya hatiku karena bisa mendengar suaranya kembali. Rasa kesal hilang berganti bahagia. ”Iya, jadi kok main ke rumah. Tapi gue di Rawamangun dulu yah. 15 menit lagi sampai’. Ku bayar sejumlah Rp. 4.900,-. Dengan langkah pasti, kakiku membawa tubuh dan jiwa menuju cinta yang kurindu satu setengah tahun lamanya.
Mataku memandang keluar dan mencari bajaj. ”Ke Jl. Pulo Asem Timur1, berapa bang?”, tanya pada supir bajaj. ”Rp. 7.000,-!”, jawab supir bajaj. ”ah mahal banget, tadi aja saya cuma Rp. 5.000,-”, tawarku kepada supir bajaj. ”Rp. 6.000,- deh”, tawar kembali supir bajaj tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, aku mengiyakan tawaran supir bajaj tersebut.
Getaran khas kendaraan bajaj di Jakarta, menggetarkan pula tubuh yang lama menunggu. Kuanggap getaran itu sebagai olahraga di siang hari untuk menurunkan beban berat badanku. Padahal berat badanku hanyan 52 Kg.
”Di depan belok kiri bang! Nah, diperempatan kita belok kiri lagi”, perintahku kepada supir bajaj. Hati riang gembira, kini yang kunanti satu setengah tahun lamanya akan tiba kembali di hadapan wajahku. “Stop! Disini aja bang”, kukeluarkan uang sebesar Rp. 20.000,- dari kantong celana jeansku. Supir bajaj tersebut mengeluarkan isi dompetnya dan memberikan kembalian Rp. 15.000,-.
Kulihat didepan gang tersebut ada sebuah tenda perkawinan berwarna putih. Tidak jauh dari itu kulihat pula beberapa Tentara Nasional Indonesia dari Angkatan Laut berjaga-jaga. Tak kupedulikan mereka, kulangkahkan kakiku kembali menuju alamat yang diberkan Melda.
”Permisi! Meldanya ada?,” kutanya kepada salah satu penjaga didepan tenda perkawinan berwarna putih itu. ”Oh, masuk aja lewat tenda itu!”, jawab sang penjaga. Ku masuk ke dalam tenda dan kulihat disana penuh dengan para undangan.
Di balik tenda terdapat rumah yang sangat besar dikelilingi dengan pagar besi berwarna biru samudera. Tanda warna rumah penjaga samudera negaraku. ”Assalamu alakum! Meldanya ada pak?”, salam dan tanyaku kepada seisi rumah besar itu.
Kulihat Melda dengan putrinya Nasya. Kaget dan rinduku menyatu menjadi satu melihat kekasih hati yang tak bertemu satu setengah tahun lamanya. Mata terpana penuh rindu pula dia menatapku sambil menggendong putrinya Nasya yang sudah berusia 2 tahun. Putrinya sangat rewel karena sakit sesak napasnya kambuh.
”Di depan saja Win!”, perintah meldaku sayang.
Didepan aku melihat beberapa sofa dan kursi. Aku duduk di sofa itu sambil menunggu Melda menemuiku. Hatiku terasa sesak dan ingin menangis. Rinduku padanya. Sekali lagi aku harus menunggu.
”Apa kabar yah? Keren banget lu yah”, sapa pertama Melda padaku. Dan seperti biasa dia menyapaku dengan kata-kata Ayah, sapaan sayang dari dirinya padaku.
”Kenapa Nasya, Mel?”, tanyaku kembali padanya karena rasa dag-dig-dug sama seperti pertama kali kunyatakan cinta padanya.
”Masuk angin yah, dan memang dari Medan sudah sakit”, jawab Meldaku sayang.
Diam seribu bahasa aku memandang wajahnya. Kutatap Meldaku sayang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak ada yang berubah selain tambahan tato di lengannya. Grogi membuatku tak bisa mengucapkan apa-apa. Aku hanya memandangi Meldaku sayang.
”Kenapa lu yah? Kok bengong”, tanya Melda melihat diriku yang tak bisa berkata apa-apa.
”Gue kangen banget sama lu Mel”, kuucapkan dari lubuk hatiku untuk Melda.
Dia pun akhirnya diam seribu bahasa. Sambil tertunduk dan wajahnya seakan-akan ingin berkata mengulangi kembali kata-kata dia dahulu ketika meninggalkan aku, satu setengah tahun dahulu.
Kuingat kembali permintaan Melda dahulu. Ketika itu dengan nada sedih Melda berkata dengan permintaan yang sangat tulus. ”Kalau lu sayang sama gue, lu harus nyusul gue ke Bali. Dan kalau memang kita ingin tetap bersama, sesampai di Bali lu harus lamar gue”, rasa kaget kumendengar permintaan dari bibir sang kekasihku.
Waktu itu aku hanya diam seribu bahasa tak berkata apapun selain hati yang merasakan sedih luar biasa. Hanya sampai disinikah percintaanku dengan dirinya. Aku belum ingin menikah. Aku belum siap tapi aku cinta dirinya. Tuhan apa yang harus aku katakan pada dirinya. Yang bisa aku katakan pada dirinya hanyalah ”Gue sayang banget sama lu Mel. Gue cinta sama lu, Mel”. Tergagetku dari lamunanku mengingat satu setengah tahun lamanya ketika kumasih bersama dengan dirinya.
”Kok bengong yah!”, sambil melihat wajahku yang sedih, Melda membangunkanku dari lamunanku.
”Ngak! Oh yah Mel, berapa lama di Jakarta?” tanyaku.
”Paling-paling sampai hari Selasa, yah”, menjawab pertanyaan ku tadi.
”Oh, berarti tinggal 2 hari lagi dong”, dengan nada lemas aku berkata pada Meldaku sayang.
Kulihat dia sedang menenangkan Nasya putri kesayanganya yang sedang sakit. Dia melangkahkan kaki kedalam.
Rokok yang kuhisap tak terasa hampir habis. Kuhisap kembali rokok yang ada di depan mejaku. Sesekali meminum air yang diberikan Melda padaku. Aku hanya melihat dan memandang yag ada disekelilingku. Tatapan kosong dengan hati yang sedih luar biasa.
”Yah, maafin gue yak. Gue ngak bisa nemanin lu. Soalnya Nasyanya rewel banget. Gue ngak bisa keluar nemenin lu”, rasa sedih bertambah kembali mendengar permintaan dari Meldaku sayang yang kurindu satu setengah tahun lamanya.
Ragu-ragu kumeninggalkan Melda. Aku ingin memandang wajahnya lagi beberapa menit lagi. Tapi aku tak mau menyakiti dia kembali. Kupamit dari dirinya. Dan hanya salaman saja yang kudapat dari dirinya. Kosong dan hampa. Tidak ada cinta lagi dari dirinya.
Di tengah perjalanan di dalam bis yang menuju ke arah Grogol. Aku hanya bengong dan berkata dalam hati. ”Tuhan jangan berikan aku cinta lagi”.
Jakarta, 13 Nopember 2006
"Maafkan Aku Bila Membohongimu" by darvinovich
Tidak seperti biasanya Sayangku tidak mengangkat telepon dariku. Kusudah berkali-kali menghubunginya tetapi tetap saja tidak diangkat. Sedangkan isi pulsa untuk SMS sudah habis. Memang minggu-minggu ini uangku sudah habis dan aku sedang menunggu kiriman dari piutang temanku yang kupikir cukup untuk satu bulan ini. Rasa cemas dan bingung menggangguku hari itu. Apakah Sayangku marah padaku?
Suara SMS yang masuk mengusik dari lamunan panjang tentang Sayangku. Setelah kubuka ternyata dari Nana, ”tlg tlp balik mas darwin, by nana”.
Kubergegas menuju ruangan telpon dan kutekan nomor telepon genggam Nana. ”Ya ada apa Na?”, tanyaku pada Nana. ”Sayangmu mau ke kosanku, tetapi aku tidak bisa turun ke bawah. Nanti kusuruh Sayangmu ke Kalibata dan Mas antar Sayangmu yah ke kosan!”, perintah Nana kepadaku.
Mendengar hal itu aku sangat bahagia, lalu kutelpon Sayangku. ”Sudah dimana Sayang?”, tanyaku pada Sayangku.
Lalu Sayangku menjawab, ”Katanya Nana sakit perutnya. Kok ngak ada yang temanin dia”.
”Oh gitu, kok aku ngak tahu. Nana ngak bilang kok”, jawabku.
”Yaudah Mas telpon aja Nananya dulu”, perintah Sayangku sekaligus mengakhiri pebicaraan lewat telpon genggam.
Rasa bingung datang kembali tetapi kusimpan dahulu karena aku harus menghubungi Nana. ”Na, tadi Sayangku bilang perut kami sakit”, tanyaku kepada Nana.
”Cuma sakit perut doang kok Mas. Ngak apa-apa!”, jawab Nana.
Setelah aku menelpon Nana langsung aku menghubungi Sayangku kembali. Seperti tadi siang tiada jawaban karena telpon genggamnya tidak diangkat.
Dalam hatiku yakin Sayangku tetap akan datang ke kosan Nana, jadi aku bersiap-siap berjaga-jaga di depan rumah untuk menunggu Sayangku. Setiap ada suara mobil pasti aku akan melihat ke depan dan berharap itu Sayangku. Lama ku menanti dan berharap Sayangku belum datang juga tetapi aku tetap yakin bahwa Sayangku tetap datang.
Mataku menerawang kedepan melihat kedatangan taksi lewat depan rumahku. Pikiranku melayang-layang memikirkan Sayangku, dan berharap Sayangku akan datang sekedar tuk melepaskan rinduku padanya. Lama kumenunggu di depan rumah, Sayangku belum datang juga.
Kulihat disana ada taksi berwarna biru berhenti di depan rumahku. Benar saja itu Sayangku. Aku langsung buka pintu taksi tetapi yang aku sedih aku tidak bisa membayar taksi yang ditumpangi Sayangku. Kulihat juga didalam, ada seorang gadis kecil manis. Namanya Bidadari Bunda putri dari Sayangku.
”Naik motor saja dari sini Sayang!”, ajakku kepada Sayangku karena aku tidak punya uang sepeserpun untuk membayar taksi tersebut. ”Ngak Mas, naik taksi saja”, jawab Sayangku disaat aku kebingungan karena memang tidak ada uang di sakuku. Disaat itu aku tidak perduli dan langsung saja masuk taksi menuju kosan Nana.
Didalam taksi aku memandangi Sayangku dan putrinya Bidadari Bunda. Kugenggam tangannya dan kucium keningnya. Oh, rasa kangen sirna di dalam taksi. Sayangkupun menyambut rinduku dengan ciuman hangat di pipi. Selama perjalanan, kugenggam selalu tangannya dan kudekatkan kepada hatiku yang merindu padanya. Sekali-kali aku menyapa Bidadari Bunda.
”Nanti ada perempatan kita belok kiri Pak”, perintahku pada supir Taksi.
”Dua gang lagi kita belok kiri lagi yah Pak”, perintah kembali kepada supir Taksi.
Supir taksi melakukan perintahku dan berjalan dengan sangat lambat untuk menghindari kecelakaan di jalan maklum banyak anak kecil.
”Yah, berhenti disini saja Pak”, perintah terakhirku kepada supir Taksi.
Taksi berhenti di depan gang kecil dan kulihat didepan sana ada beberapa orang yang sedang melakukan olahraga pencak silat.
”Sayang aku tidak bawa uang”, dengan rasa malu dan sedih aku berkata kepada Sayangku. ”Ngak Mas pakai uangku saja”, jawab Sayangku. Aku memang senang melihat seorang sosok wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Sosok wanita itu ada dalam diri Sayangku. Ada tiga hal yang membuat aku cinta pada Sayangku, pertama, mandiri; kedua, keibuaan; dan ketiga, Sayangku cantik.
Disaat aku menulis cerita ini, pada pukul 11.45 WIB terdengar suara SMS yang masuk. “Kalo tar mlm mas sibuk tip2 aja ma nana tar sya ambil ma nana”, ternyata dari Sayangku.
Kulanjutkan kembali. Kubuka pintu taksi dan kubawa tas yang dibawa Sayangku, dimana isinya adalah perlengkapan putrinya Bidadari Bunda. Kugandeng ia dengan mesra menuju kosan Nana melalui gang yang sangat kecil. Memang kota Jakarta adalah kota besar dengan dipenuhi padatnya rumah yang jalannya hanya bisa dilalui oleh dua orang. Aku membayangkan kalau terjadi kebakaran maka seluruh rumah dalam satu kampung akan habis terbakar dalam sekejap.
Kunaiki tangga dan kubiarkan Sayangku naik dahulu. Sayangku menggendong Bidadriku dan kutahan Sayangku dari belakang agar tidak jatuh kebawah. Sesampai diatas kami ketuk pintu kosan Nana. ”Assalamu ’alaikum!”, salam pembuka kepada tuan rumah. “Walaikum salam, masuk aja ngak dikunci!”, salam Nana kepada kami. Kulihat disana, Nana sedang merebahkan tubuh menahan sakit karena sedang hamil tua.
Kipas angin tidak bisa menyegarkan ruangan disebabkan tidak bisa berputar dan anehnya udara yang berhembus dari mesin kipas angin sangat panas. Sayangku menurunkan Bidadari Bunda dan aku mengganjal pintu agar udara segar masuk ke dalam ruangan. Kumatikan telpon genggamku, karena dari kemarin Novi menghubungi aku untuk meminjam uang tapi tidak aku angkat karena aku sedih untuk selalu berkata, “Nanti yah Nov, kalau ada rejeki gue transfer ke ATM lu”. Novi adalah teman dari Melda, saat ini suaminya pergi ke Australia karena memang warga negara Australia keturunan Italia. Sudah berbulan-bulan suaminya tidak mengirimkan uang untuk putri mereka. Bukan hanya Novi saja yang ingin meminjam uang dariku, teman kakakku pun ingin meminjam dariku sebab orang tuanya sakit. Aku marah pada diriku karena tidak bisa membantu mereka yang sedang dalam kesulitan. Aku bisa merasakan kesulitan mereka, tetapi aku memang tidak ada simpanan uang lagi.
Rasa curiga dari benak Sayangku terlihat dari raut muka wajah cantik Sayangku. Hatiku terasa hancur ketika melihat Sayangku sedih dan kuhidupkan kembali telepon genggam sambil berkata, “HP ku lowbat, Sya”. Rasa tidak percaya Sayangku padaku dan memintaku agar telpon genggam milikku dipinjam Bidadari Bunda. Kuberikan telpon genggamku kepada Sayangku tuk berikan kepada putrinya, Bidadari Bunda. Sayangku melihat, batre Hpku masih penuh. Rasa kecewa dilampiaskan dengan kata-kata untuk menutup kebohonganku, “Omnya pelit yah Bidadari Bunda!”.
Terpaksa aku berbohong kepada Sayangku karena aku tidak ingin menyakiti hatinya. Aku takut dia sedih, sebab kalau Sayangku sedih pasti aku bisa merasakannya. Maafkan aku sayang.
Udara didalam ruangan terasa panas, aku tak tahan untuk tidak mandi. Kuambil handuk putih milik temanku didepan dan langsung aku masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, kukeringkan tubuhku. Sosok wanita yang kucintai ada di depanku. Kucium dia dengan mesra walaupun ada Nana disana. Aku tidak perduli karena aku sangat sayang pada Sayangku.
Terlihat Sayangku mengeluarkan mainan untuk diberikan kepada Bidadari Bunda. Kucari kertas putih kosong untuk kuberikan kepada Bidadari Bunda agar dia mengeluarkan kreatifitasnya dalam coret-coretan diatas kertas putih. Disana aku lihat ada kertas yang bertuliskan anti neoliberalisme dengan logo hurup “A”. Propaganda kaum Anarko Sindikalis dengan varian barunya, Marxisme Otonom. Sebuah bentuk ideologi yang mencoba menggabungkan pikiran-pikiran Karl Marx dengan Bakunin, mungkinkah. Kertas itu kuberikan kepada Bidadari Bunda. Gadis kecil itu melihat gambar hurup “A”. Gadis kecil itu mencoret-coret belakang kertas berwarna putih.
Diluar ruangan yang sangat panas itu kutatap wajah Sayangku, kumasuki relung hatinya untuk bertanya kenapa bersedih Sya. Tak tahan hati ini untuk segera mencium bibirnya. Sambil melukis propaganda anti kapitalisme di tembok kukecup ia dengan mesra dan rasanya tidak akan kulepaskan kecupan bibirku darinya. Sya aku sayang sama kamu. Lukisan itu kini jadi disaat aku mencium bibirnya yang manis. Lukisan anti kapitalisme dengan sentuhan cinta sepasang manusia yang memadu kasih.
Kami masuk kembali kedalam untuk membawa Bidadari Bunda main. Suara pintu gerbang diluar terdengar ada yang membuka. Langkah kaki diatas tangga terdengar sampai ke dalam dan kulihat temanku Riano suami Nana baru pulang kerja.
“Lembur No?”, tanyaku kepada riano.
“Iya nih, ngejar pembuatan UU Penanaman Modal Asing”.
“Sikap dari Fraksi PDI Perjuangan bagaimana?”, tanyaku kembali.
“Fraksi sih menginginkan agar pintu investor asing tidak dibuka dengan bebas dan harus memproteksi kepentingan dalam negeri. Mereka sekarang lagi bertempur di parlemen. Jadi lembur gue”.
“Yah walaupun kita selalu kalah di parlemen seperti kemarin misalnya tentang impor beras tetapi kita tunjukan kepada Rakyat bahwa kita tetap berjuang bersama mereka. Setan kota sama setan desa terlalu kuat kalau kita hanya berjuang lewat Parlemen. Mereka harus dihancurkan oleh bersatunya kekuatan Marhaen dan Marhaenis sendiri. Massa aksi yang radikal harus tetap digalang dan perjuangan yang paling penting ketimbang perjuangan lewat Parlemen. Yang menurut gue kita terlalu kompromistis dengan kaum borjuasi nasional dan kompradornya. Tetapi itu realita di lapangan sekarang sebab kalau kita terlalu keras maka kita akan gampang dihancurkan. Kekuatan kaum Marhaen dan Marhaenis masih minoritas. Lihat aja, belum apa-apa kita sudah diisukan dengan anak-anak PKI sudah masuk dalam Parlemen. Padahal Ideologi tidak akan bisa dihancurkan. Mereka seharusnya berpikir seperti saat burung terbang bebas diatas kita tetapi kita bisa mencegah agar burung itu tidak bersangkar diatas kepala kita. Yah, kita merunduk dulu lah tetapi tetap waspada. Belum lagi bertarung di dalam tubuh Partai. Terlalu banyak binatang disana yang disusupkan oleh musuh-musuh kita”, sambil menghisap rokok kuhembuskan asapnya keluar agar tidak masuk kedalam ruangan.
Disaat aku berbincang-bincang dengan Riano, Sayangku minta dibelikan makan. Aku berdua Riano turun kebawah untuk membelikan makanan. Di warung pecel lele dan ayam, aku berbincang mengenai percintaanku. Setelah itu aku meminjam uang sama Riano besok akan kukembalikan. Uang itu aku pergunakan untuk membawa pulang Sayangku dengan Taksi.
Sampai di kosan Nana kulihat Sayangku sedih sekali. Aku bisa merasakan itu walaupun dia tidak berkata. Hati terasa sedih dan sepi rasanya. Kulihat dia tadi memegang telpon genggamku. Aku tahu dia pasti membuka SMS-ku. Disana memang ada SMS dari Novi yang isinya “babeh, ada duit gak? Klo ada krimin dong 200rb. Ke ATM gw! Klo ada ya. Thanks. GBU. LOVE”. Novi memang memanggilku Babeh seperti teman-teman Melda lainnya. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Hidupnya sangat menderita, orangtuanya sudah bercerai lama sedangkan suaminya belum kembali. Dan kalau ada uang lebih pasti aku berikan kepada Novi untuk sekedar membelikan susu putrinya.
“Sya kenapa kamu?”, tanyaku kepada Sayangku. Dia diam saja dan berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dariku. “Sya kamu pasti marah sama aku. Maafin aku yah Sya!”, bujukku kepada Sayangku.
Setelah makan selesai Sayangku ingin cepat-cepat pulang padahal Bidadari Bunda masih ingin main. Sambil membujuk Bidadari Bunda untuk pulang aku berusaha untuk menenangkan hatinya yang sedang kecewa dan sedih. Sayangku tetap saja ingin pulang. Kuantarkan Sayangku dan Bidadari Bunda pulang dengan rasa sedih. Aku tahu Sayangku sangat marah padaku.
Temanku Hasan mencari taksi terlebih dahulu dan membawakan taksi itu kepada kami. Tetapi disaat mau naik taksi, Sayangku terlihat kebingungan karena cincinnya di dalam tas hilang.
“Kamu cari apa Sayang?”, tanyaku kepada Sayangku.
“Cincinku hilang Mas”, jawab Sayangku.
“Loh memang kamu taruh mana tadi”, rasa penasaran kubertanya lagi padanya.
“Tadi pas kamu bawa tasnya, kamu hadapkan kebawah yah”, tanya Sayangku padaku.
“Mungkin, soalnya kamu ngak bilang sih didalamnya ada cincin kamu”, sambil keluar dari Taksi aku mencari di depan gang jalan. Rasa kalut dan sedih diiringi suara tangisan Bidadari Bunda yang tidak mau pulang membuatku sedih tiada tara. Kucari-cari tetapi tidak ketemu.
Kunaiki Taksi kembali dan berkata kepada Sayangku, “Kamu jangan pergi dulu yah! Tunggu aku disini!”. Aku berkata seperti itu karena aku curiga Sayangku tidak mau aku antar pulang. Dengan rasa was-was takut Sayangku jalan pulang sendiri. Aku berjalan sendiri mencari cincin yang hilang sampai ke kosan Nana. Sampai di kosan Nana, aku bertanya dengan Riano, “No lihat cincin ngak?”. Riano sambil keluar ruangan menjawabku, “Ngak Win!”. Didalam ruangan, Nana bicara bahwa tadi lihat cincin yang dipakai Sayangku bentuknya kura-kura. Rasa takutku Sayangku akan pulang sendirian membuatku tidak bisa berlama-lama bertanya dengan Riano. Kususuri jalan kembali tetapi tetap saja tidak menemukan cincin itu.
“Ngak ada Sayang”, kataku kepada Sayangku sesampai didalam Taksi.
“Yaudah Pak kita langsung jalan ke DT”, perintahku kepada supir taksi.
“Ngak Pak kita ke Kalibata”, perintah yang berbeda kepada supir taksi.
“Loh aku ingin antar kamu pulang Sayang”, sambil menciumi pundaknya agar dia tetap tenang.
“Ngak Mas, biar aku pulang sendiri aja”, perintah Sayangku padaku.
Aku tidak bisa berkata-kata apalagi selain menuruti apa maunya Sayangku. Aku tidak tega melaihat dia sedih. Kusapu air mata yang sudah mulai menetas di pipinya. Kucium dia dengan mesra agar mau memaafkan aku. Dan selalu berkata, “Jangan sedih yah Sayang. Maafin aku!”.
Sampai di depan rumah, aku berikan kepada supir taksi uang yang aku pinjam dari Riano. Sayangku lalu berkata, “Ngak Mas biar aku saja kalo ngak aku marah!. Tak kuhiraukan marahnya yang hanya ingin aku lakukan menciumnya sekali lagi. Diluar taksi dan kubuka pintu taksi yang ada disampingnya, kupegang tangannya dan kucium dengan mesra serta kutatap matanya. Rasa sedih terpancar dari sorot mata yang seakan-akan sedang menangisi dirinya.
Taksipun melaju cepat meninggalkanku. Aku masuk ke dalam ruangan dan mengajak Willem temanku untuk membantu mencarikan cincin yang hilang. Bersama willem aku mencari cincin itu. Berjam-jam tidak kami temukan juga. Di kegelapan malam kami mencari dengan dibantu sorot lampu motor. Dan akhirnya kami temukan juga. Senang rasanya dan segera kami kembali kerumah.
Sampai di rumah, aku langsung menelpon Sayangku bahwa cincinnya telah aku temukan kembali. Tetapi tetap saja telpon genggamnya tidak diangkat mungkin masih marah denganku. Dengan meminjam HP temanku, ku SMS dengan isi pesan, “Sayang cincin kamu sudah aku temukan. Angkat dong telponnya”. Kutunggu-tunggu tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari Sayangku.
Kubersiap-siap untuk berangkat ke rumah Sayangku dan kunaiki motor sendirian dengan rasa sedih. Dinginnya malam membuatku menggigil rasanya. Jalan Jakarta yang sepi membuatku kencangkan laju motor agar cepat-cepat sampai di rumah Sayangku. Kumasuki gang rumah Sayangku dan kuberhenti dedepan gerbang berwarna merah. Tetapi sampai disana ternyata gerbang itu sudah terkunci. Aku tetap saja menunggu Sayangku dan berharap Sayangku keluar. Sayang Sayangku tetap di dalam. Dengan rasa kecewa aku pulang. Sepanjang perjalanan aku selalu melihat HP ku berharap Sayangku menghubngi aku akan tetapi tetap saja Sayangku tidak menghubungiku.
Sesampai dirumah dengan rasa kecewa, aku memasukan motorku. Dan terdengar dari balik celanaku. Kulihat dan ternyata Sayangku.
““Tadi aku ke rumah kamu tetapi pagarnya ditutup dan aku tunggu kamu ternyata kamu tidak keluar jadi aku pulang lagi Sayang”, kataku kepada Sayangku. “HP-ku ngak kedengaran karena dibalik bantal Mas”, jawab Sayangku kepadaku.
“Oh...!!!”, hanya itu yang bisa aku ucapkan.
“Terima kasih yah Mas sudah mencari cincinku”, ucap Sayangku.
Sambil memasukan motorku, aku membujuk kembali agar Sayangku tidak marah lagi padaku.
“Aku kecewa Mas sama kamu. Kamu selalu saja berbohong aku benci itu. Lebih baik kamu jujur karena aku sudah bosan dibohongi. Tadi kamu bilang HP kamu lowbat ternyata tidak. Buktinya Bidadari Bunda main punya HP kamu kok ngak mati-mati”, Marahnya Sayangku padaku.
Dengan rasa sedih karena memang aku sudah membohonginya, aku membujuk dia agar memafkan aku. “Aku terpaksa melakukan itu Sayang agar kamu tidak sedih. Aku takut nanti kamu akan marah dan sedih lagi kalau ada teman cewekku menelpon aku. Aku tidak ingin menyakitimu Sayang. Demi Tuhan, aku minta maaf padamu Sayang. Pasti kamu tadi buka SMS-ku dan kamu lihat disana ada SMS dari Novi Mami. Dia itu sudah kuanggap adikku sendiri Sayang. Suaminya orang Australia dan belum kembali berbulan-bulan”.
“Aku tidak perduli Mas, siapapun itu mau Melda, Novi, Sarah atau cewek-cewek kamu yang ribuan itu. Lebih baik kamu jujur Mas. Aku tahu Mas, manusia itu tidak ada yang sempurna. Aku akan lebih menghargai kamu kalau jujur padaku. Yaudah yah Mas, aku mau niduri Bidadari Bunda dulu dari tadi dia nangis terus”, dengan diakhiri pembicaraan, Sayangku mematikan HP-nya.
Di saat Sayangku mematikan HP-nya, malam terasa hening disaat itu pula aku menangisi diriku dan bekata dalam hati “Aku berbohong karena tidak ingin menyakitimu Sayang”. Disaat itu pula aku teringat dengan kata-kata Antoine De Saint-Exupery, “Cinta bukan semata terwujud ketika dua orang saling bertatap muka, tetapi ketika mereka menatap ke luar dengan arah yang sama”. Yah, mulai hari ini aku akan selalu jujur padamu sayang walaupun akan menyakitimu tuk melangkahkan cinta ke arah yang lebih baik. Akan aku turuti apa mau mu sayang karena aku sayang kamu, Sayangku yang cantik, keibuaan dan mandiri. I Love U Sayang. @};--
Kali ini aku setuju dengan mu wahai Chairil Anwar :
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri.
Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Lenteng Agung, 22 Nopember 2006
darwiniskandard@yahoo.com
"Doa Kematian Cupid Sang Pecinta" by darvinovich
Motorku melaju kencang bersama kawan jalanan. Angin malam hampir menjatuhkan kami diantara sisi-sisi jalan yang sangat keras. Garis finish sudah hampir kami lalui tetapi ditengah jalan kami terjungkal bersama dan dengan sangat cepat, motorku terbang melayang menjauhi tubuh kami. Yang kuingat pada saat itu hanyalah wajah kekasih yang aku cintai. Wajahnya selalu terbayang dan tak terlupakan. Tak kulihat disana bayangan maut wajah malaikat kematian, tidak! Yang kubayangkan hanya wajah bidadariku.
Raungan keras dari suara temanku yang kesakitan membangkitkan aku dari lamunan kematian yang terhenti karena terlintas wajah bidadariku. Para tracker motor di Jalan Karet Tanah Abang membantu kami. Terlihat nisan tua yang membisu tak berkata sedikitpun padaku.
Kubawa temanku ke Rumah Sakit Tarakan menggunakan taksi. Kulihat dia sepanjang perjalanan, berharap dia jangan mati. Darah mengalir dari kepala temanku akibat terbentur trotoar menodai baju dan celanaku, merah warnanya. Hening dan kadang-kadang terdengar suara kesakitan dari temanku membawa suara hati untuk memberitahukan kepada supir Taksi untuk mempercepat laju kendaraannya.
Sebelum lampu merah kami masuk ke dalam gerbang yang aku benci seumur hidup. Rumah sakit menyapa kami dengan sebuah kereta dorong. Setelah kubayar taksi yang kami tumpangi kubergegas mengangkat temanku dibantu oleh beberapa perawat dan petugas kemanan.
Perawat melarangku masuk. Kusendiri, sedikit menahan sakit tetapi untung saja aku memakai jaket sehingga lukaku tak terlalu parah. Rasa sakit tak bisa mengalahkan rinduku pada bidadariku yang sedang marah hingga saat sekarang ini.
”Hatiku selalu memanggil namamu.
Begitu aku rindu padamu.
Entah, apakah kamu rindu padaku?”
Suara hati yang merindu datang kembali. Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki. Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu. Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.
Bagiku, kesepian memiliki ikatan misterius dengan cinta. Kita merasa kesepian ketika tidak ada obrolan yang baik. Dalam kesendirian, seseorang berbicara dengan dirinya sendiri. Dan kini, aku tidak bisa berbicara tentang kesepian diri, meski aku pernah merasakannya ketika sedang jatuh cinta.
Kuberusaha untuk mencoba melupakannya sesaat tapi tetap saja tidak bisa. HP kumatikan dan aku berusaha memejamkan mata berusaha untuk melupakan wajahnya dari otakku. Di langit-langit rumah sakit terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan tangan hanya terdengar lagu ketika ia bersama diriku, suara manjanya di telpon, senyumannya ketika menyongsongku dari kejauhan, langkah-langkahnya.
Dalam hatiku Tuhan ambil saja nyawaku, aku sudah tidak tahan dengan perasaan yang menyakitkan ini. Eros Dewa Cinta dimana engkau? Aku memanggilmu dengan nama cinta. Ambil rasa cinta ini dariku.
“Bunuh Cintaku” dalam hatiku.
Kemudian aku terbangun dan menyalakan rokok sambil menghidupkan HP kembali. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”.
Aku memberanikan diri untuk mengirim sebuah SMS kepada dirinya bahwa aku menyesal karena pernah mengirimkan SMS untuk mengucapkan selamat tinggal pada dirinya. Aku masih mencintainya, aku masih menyanyanginya tak bisa aku berpisah dengan dirinya. Naif benar cintaku ini sepertinya naifnya cianya padaku. Tapi aku tak sanggup, takut mengganggunya kembali. Aku harus benar-benar memahami orang yang aku cintai. Jika cinta hanya sebongkah keinginan untuk memiliki, maka itu bukanlah cinta. Jika aku hanya memikirkan diri sendiri, dan mengabaikan urusan orang lain, itu bukan cinta. Aku harus menajamkan pandangan agar dapat mengetahui dan memahami keinginan, angan-angan, dan penderitaan orang yang aku cintai. Bagiku inilah dasar cinta yang sejati.
Ketika itu angin masuk dari luar melalui lorong rumah sakit dan membawa harum tubuh orang yang aku cintai. Aku pun bangkit dan mencari tempat lain untuk sekadar tidur memejamkan mataku kembali, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau lorong rumah sakit ini dipenuhi bau rokok yang aku hisap.
Ketika aku sampai pada batang rokok yang terakhir, aku pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar dan kembali tidur. Namun mataku tidak terpejam, memikirkan “bidadariku” yang tidak berada dalam pelukanku. Air mata menitik dan jatuh ke pipiku.
Dalam hatiku aku kembali berkata, mungkin cinta yang tulus tidak pernah ada. Jika ada, barangkali hanya pada orang-orang tertentu saja. Cinta yang tulus tidak memberi pengaruh apa-apa. Tetapi dalam dunianya yang sunyi, ia membawa kita kepada pandangan yang luas.
Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintaku kepada kekasih hatiku. Cinta lebih dahsyat ketimbang Maut dan lebih mengerikan ketimbang Neraka.
“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.
Dalam mimpiku aku berdoa meminta kepada Eros Dewa Cinta untuk menyabut nyawa cintaku. Doa kematian dari seorang yang sedang putus cinta selalu aku ulangi berulang-ulang kali lamanya. Dengan tulus dan ridho aku berdoa dalam mimpiku :
“Eros Dewa Cinta Ambilah Nyawaku!
Demi cinta yang kau berikan padaku
Ambillah cintaku dari nyawaku
Utuslah malaikat mautmu untuk memanggil nyawa cintaku kembali
Jemputlah ia bersama malaikat maut untuk kembali padamu
Jangan biarkan ia bersemayam kembali padaku
Jangan biarkan ia menggangguku kembali
Kabulkanlah doaku wahai Tuhan para pecinta
Amin!!!”
Tiba-tiba Eros Dewa Cinta mendatangiku. Dia menyapa dengan cinta dan kasih. Sinar terang mendampingi Tuhan para pecinta. Menyilaukan mata yang sedang putus cinta tetapi menyejukan bagi yang sedang jatuh cinta.
”Mencintai berati siap menghadapi situasi baik dan buruk. Seperti halnya ketika sedih, muram, dan kecewa, maka engkau harus bersikap seperti ketika engkau sedang bahagia dan dapat menyelesaikan semua rintangan dengan menumbuhkan semacam kesadaran bahwa kesedihan itu belum pernah terjadi sebelumnya”, sabda Eros Dewa Cinta padaku.
Eros Dewa Cinta mengajariku, aku berkata dengan suara gemetar, ”untuk percaya pada cinta.” Eros menyahut : “Ketika cinta datang, itulah kenyataan.” Eros menambahkan, “Hasrat tidak buta. Sama sekali tidak. Hasrat adalah kesehatan jiwa, dan perempuan yang kau cintai adalah satu-satunya orang yang akan memahami dengan sungguh-sungguh. Berpeganglah dengan erat; biarkan semua berlalu secara perlahan. Inilah salah satu rahasia terbesar kenikmatan cinta”
Tiba-tiba aku terbangun karena perawat muda Rumah Sakit Tarakan memberitahukanku bahwa kawanku sudah melewati masa kritis. Aku bersyukur kepada Tuhan, dia telah selamat. Dia berjuang untuk hidup tetapi aku berjuang untuk menuju kematian. Dia menyadarkanku untuk tetap berjuang untuk tetap hidup. Menghadapi kematian dan tidak memedulikan hukumannya, membuat segalanya tampak begitu berharga, begitu suci, begitu indah sehingga aku merasa lebih kuat dibanding biasanya, dan ada dorongan hati untuk untuk menyukainya dan bahagia karenanya. Kematian, dan pengaruhnya saat ini, memungkinkan hadirnya cinta, cinta sejati. Namun aku bimbang apakah aku dapat mencintai dengan setulus hati, apakah aku bisa bergembira dengan hati yang berbinar-binar, dan apakah aku tahu bahwa aku tidak akan pernah mati untuk selalu mencintainya, bidadariku sayang.
Aku akan berjuang untuk bangkit kembali. Aku tidak mau mati, aku ingin hidup untuk mencoba kembali padanya. Maafkan aku cinta. Cinta datanglah kembali padaku.
Di sudut Rumah Sakit Tarakan
Sabtu, 8 Desember 2006
"Doa Kematian Cupid Sang Pecinta" by darvinovich
Motorku melaju kencang bersama kawan jalanan. Angin malam hampir menjatuhkan kami diantara sisi-sisi jalan yang sangat keras. Garis finish sudah hampir kami lalui tetapi ditengah jalan kami terjungkal bersama dan dengan sangat cepat, motorku terbang melayang menjauhi tubuh kami. Yang kuingat pada saat itu hanyalah wajah kekasih yang aku cintai. Wajahnya selalu terbayang dan tak terlupakan. Tak kulihat disana bayangan maut wajah malaikat kematian, tidak! Yang kubayangkan hanya wajah bidadariku.
Raungan keras dari suara temanku yang kesakitan membangkitkan aku dari lamunan kematian yang terhenti karena terlintas wajah bidadariku. Para tracker motor di Jalan Karet Tanah Abang membantu kami. Terlihat nisan tua yang membisu tak berkata sedikitpun padaku.
Kubawa temanku ke Rumah Sakit Tarakan menggunakan taksi. Kulihat dia sepanjang perjalanan, berharap dia jangan mati. Darah mengalir dari kepala temanku akibat terbentur trotoar menodai baju dan celanaku, merah warnanya. Hening dan kadang-kadang terdengar suara kesakitan dari temanku membawa suara hati untuk memberitahukan kepada supir Taksi untuk mempercepat laju kendaraannya.
Sebelum lampu merah kami masuk ke dalam gerbang yang aku benci seumur hidup. Rumah sakit menyapa kami dengan sebuah kereta dorong. Setelah kubayar taksi yang kami tumpangi kubergegas mengangkat temanku dibantu oleh beberapa perawat dan petugas kemanan.
Perawat melarangku masuk. Kusendiri, sedikit menahan sakit tetapi untung saja aku memakai jaket sehingga lukaku tak terlalu parah. Rasa sakit tak bisa mengalahkan rinduku pada bidadariku yang sedang marah hingga saat sekarang ini.
”Hatiku selalu memanggil namamu.
Begitu aku rindu padamu.
Entah, apakah kamu rindu padaku?”
Suara hati yang merindu datang kembali. Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki. Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu. Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.
Bagiku, kesepian memiliki ikatan misterius dengan cinta. Kita merasa kesepian ketika tidak ada obrolan yang baik. Dalam kesendirian, seseorang berbicara dengan dirinya sendiri. Dan kini, aku tidak bisa berbicara tentang kesepian diri, meski aku pernah merasakannya ketika sedang jatuh cinta.
Kuberusaha untuk mencoba melupakannya sesaat tapi tetap saja tidak bisa. HP kumatikan dan aku berusaha memejamkan mata berusaha untuk melupakan wajahnya dari otakku. Di langit-langit rumah sakit terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan tangan hanya terdengar lagu ketika ia bersama diriku, suara manjanya di telpon, senyumannya ketika menyongsongku dari kejauhan, langkah-langkahnya.
Dalam hatiku Tuhan ambil saja nyawaku, aku sudah tidak tahan dengan perasaan yang menyakitkan ini. Eros Dewa Cinta dimana engkau? Aku memanggilmu dengan nama cinta. Ambil rasa cinta ini dariku.
“Bunuh Cintaku” dalam hatiku.
Kemudian aku terbangun dan menyalakan rokok sambil menghidupkan HP kembali. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”.
Aku memberanikan diri untuk mengirim sebuah SMS kepada dirinya bahwa aku menyesal karena pernah mengirimkan SMS untuk mengucapkan selamat tinggal pada dirinya. Aku masih mencintainya, aku masih menyanyanginya tak bisa aku berpisah dengan dirinya. Naif benar cintaku ini sepertinya naifnya cianya padaku. Tapi aku tak sanggup, takut mengganggunya kembali. Aku harus benar-benar memahami orang yang aku cintai. Jika cinta hanya sebongkah keinginan untuk memiliki, maka itu bukanlah cinta. Jika aku hanya memikirkan diri sendiri, dan mengabaikan urusan orang lain, itu bukan cinta. Aku harus menajamkan pandangan agar dapat mengetahui dan memahami keinginan, angan-angan, dan penderitaan orang yang aku cintai. Bagiku inilah dasar cinta yang sejati.
Ketika itu angin masuk dari luar melalui lorong rumah sakit dan membawa harum tubuh orang yang aku cintai. Aku pun bangkit dan mencari tempat lain untuk sekadar tidur memejamkan mataku kembali, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau lorong rumah sakit ini dipenuhi bau rokok yang aku hisap.
Ketika aku sampai pada batang rokok yang terakhir, aku pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar dan kembali tidur. Namun mataku tidak terpejam, memikirkan “bidadariku” yang tidak berada dalam pelukanku. Air mata menitik dan jatuh ke pipiku.
Dalam hatiku aku kembali berkata, mungkin cinta yang tulus tidak pernah ada. Jika ada, barangkali hanya pada orang-orang tertentu saja. Cinta yang tulus tidak memberi pengaruh apa-apa. Tetapi dalam dunianya yang sunyi, ia membawa kita kepada pandangan yang luas.
Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintaku kepada kekasih hatiku. Cinta lebih dahsyat ketimbang Maut dan lebih mengerikan ketimbang Neraka.
“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.
Dalam mimpiku aku berdoa meminta kepada Eros Dewa Cinta untuk menyabut nyawa cintaku. Doa kematian dari seorang yang sedang putus cinta selalu aku ulangi berulang-ulang kali lamanya. Dengan tulus dan ridho aku berdoa dalam mimpiku :
“Eros Dewa Cinta Ambilah Nyawaku!
Demi cinta yang kau berikan padaku
Ambillah cintaku dari nyawaku
Utuslah malaikat mautmu untuk memanggil nyawa cintaku kembali
Jemputlah ia bersama malaikat maut untuk kembali padamu
Jangan biarkan ia bersemayam kembali padaku
Jangan biarkan ia menggangguku kembali
Kabulkanlah doaku wahai Tuhan para pecinta
Amin!!!”
Tiba-tiba Eros Dewa Cinta mendatangiku. Dia menyapa dengan cinta dan kasih. Sinar terang mendampingi Tuhan para pecinta. Menyilaukan mata yang sedang putus cinta tetapi menyejukan bagi yang sedang jatuh cinta.
”Mencintai berati siap menghadapi situasi baik dan buruk. Seperti halnya ketika sedih, muram, dan kecewa, maka engkau harus bersikap seperti ketika engkau sedang bahagia dan dapat menyelesaikan semua rintangan dengan menumbuhkan semacam kesadaran bahwa kesedihan itu belum pernah terjadi sebelumnya”, sabda Eros Dewa Cinta padaku.
Eros Dewa Cinta mengajariku, aku berkata dengan suara gemetar, ”untuk percaya pada cinta.” Eros menyahut : “Ketika cinta datang, itulah kenyataan.” Eros menambahkan, “Hasrat tidak buta. Sama sekali tidak. Hasrat adalah kesehatan jiwa, dan perempuan yang kau cintai adalah satu-satunya orang yang akan memahami dengan sungguh-sungguh. Berpeganglah dengan erat; biarkan semua berlalu secara perlahan. Inilah salah satu rahasia terbesar kenikmatan cinta”
Tiba-tiba aku terbangun karena perawat muda Rumah Sakit Tarakan memberitahukanku bahwa kawanku sudah melewati masa kritis. Aku bersyukur kepada Tuhan, dia telah selamat. Dia berjuang untuk hidup tetapi aku berjuang untuk menuju kematian. Dia menyadarkanku untuk tetap berjuang untuk tetap hidup. Menghadapi kematian dan tidak memedulikan hukumannya, membuat segalanya tampak begitu berharga, begitu suci, begitu indah sehingga aku merasa lebih kuat dibanding biasanya, dan ada dorongan hati untuk untuk menyukainya dan bahagia karenanya. Kematian, dan pengaruhnya saat ini, memungkinkan hadirnya cinta, cinta sejati. Namun aku bimbang apakah aku dapat mencintai dengan setulus hati, apakah aku bisa bergembira dengan hati yang berbinar-binar, dan apakah aku tahu bahwa aku tidak akan pernah mati untuk selalu mencintainya, bidadariku sayang.
Aku akan berjuang untuk bangkit kembali. Aku tidak mau mati, aku ingin hidup untuk mencoba kembali padanya. Maafkan aku cinta. Cinta datanglah kembali padaku.
Di sudut Rumah Sakit Tarakan
Sabtu, 8 Desember 2006
"Media ini membuat saya semakin pede" by Novie
Saya ingin berterima kasih dengan kru PortalCinta.com karena dengan media ini saya sekarang semakin "pede" dan mendapat banyak teman terutama yang berada di Indonesia, maklum sedang jauh dari rumah. Semoga kelak saya juga berhasil menemukan "tambatan hati" saya. :)
"High Class Member" by Tupai
Saya senang sekali gabungan di Portalcinta, soalnya anggotanya high class banget, banyak para executive muda. Saya jadi punya banyak kenalan & teman baru yang oke2....Thanks buat Portalcinta...
|
|
 |